Rabu, 17 April 2013

Ringkasan


1. Pengertian Ringkasan

Ringkasan adalah suatu cara yang digunakan untuk meringkas suatu karangan panjang diubah menjadi karangan pendek dengan memerhatikan pola polanya.

2.Cara membuat ringkasan
Ø   Membaca seluruh naskah aslinya.
Ø   Mecatat gagasan utama pada setiap paragraf
Ø   Membuat reproduksi
Reproduksi adalah menyusun kembali suatu karangan dalam bentuk singkat berdasarkan pada gagasan utama per paragraf.
Ø   Ketentuan ketentuan tambahan.
a.       Mengutamakan kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b.      Ringkaslah karangan menjadi frasa, frasa menjadi kata, gagasan yang panjang diganti dengan gagasan yang paling pendek.
c.       Jumlah alenia sama dengan jumlah topik sentral yang akan kita jadikan sebuah ringkasan
d.      Tidak harus mempertahankan semua kata sifat yang ada dalam karangan asli.
e.       Pertahankan gagasan asli dan ringkaslah gagasan-gagasan itu dengan urutan yang sama dengan naskah aslinya.
f.       Untuk memperkuat kebenaran boleh dimasukkan kutipan dari naskah asli atau baik kata kata langsung maupun tidak langsung.
g.      Ringkasan pidato/ringkasan ceramah yang diucapkan langsung oleh orang pertama harus diganti dengan sudut pandang orang ke tiga.
h.      Ringkasan harus ditentukan panjang suku kata suatu ringkasan.

KOLOID , SUSPENSI DAN LARUTAN SEJATI


Kali ini saya akan membahas tentang pelajaran kimia yaitu

KOLOID , SUSPENSI DAN LARUTAN SEJATI

Pengertian sistem koloid

Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletek antara larutan dan suspensi (campuran kasar ). sistem koloid terdiri atas dua fase yaitu fase terdispersi dan medium pendispersi . Contoh koloid yang sering kita temui : protein ,karbohidrat ,lemak ,susu ,krim salep dan lain lain .jadi sistem koloid berguna bagi manusia .

A.  Komponen Dan Pengelompokan Sistem Koloid

            1. Pengertian sistem koloid,larutan dan suspensi
  Sistem koloid adalah suatu sistem yang bila diamati secara makroskopis bersifat homogen tetapi saat diamati dengan mikroskop ultra maka besifat heterogen. Contoh susu dengan air.
  Larutan adalah campuran yang bersifat homogen dan tidak dapat dibedakan meskipun menggunakan mikroskop ultra . Contoh : gula dengan air
  Suspensi adalah campuran yang bersifat heterogen artinya tidak dapat larut. Contoh : tepung dengan air.

2. Jenis jenis koloid
  Sistem koloid digolongkan berdasar pada jenis fase terdispersi dan medium terdispersinya
·         koloid yang mengandung fase terdispersi padat  disebut SOL
·         koloid yang mengandung fase terdispersi cair disebut EMULSI
·         koloid yang mengandung fase terdispersi gas disebut BUIH
·         sistem koloid yang jika partikel padat atau cair terdispersi gas disebut AEROSOL
·         zat yang dapat menstabilkan emulsi dan zat cair disebut EMULGATOR
·         koloid liofil yang setengah kaku disebut GEL

B. SIFAT SIFAT KOLOID

            1. Efek Tyndall dan Gerak Brown
       a. Efek Tyndall
        Efek tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid, dengan kata lain larutan sejati meneruskan cahaya sedangkan koloid menghamburkannya.
    Contoh : di daerah berkabut ,sorot lampu  mobil terlihat lebih jelas .
        b. Gerak Brown
    Gerak  brown adalah gerak acak (gerak zig zag ) ,gerak tidak beraturan dari partikel koloid . Sifat kinetik dapat terjadi karena disebabkan oleh gerakan termal dan gravitasi
Gerak brown menunjukan kebenaran teori kinetik molekul yang  mengatakan bahwa molekul molekul dalam zat cair senantiasa bergerak ,makin tinggi suhu makin cepat gerak brown karena energi kinetik molekul medium meningkat sehingga menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.
            2. Muatan koloid
                 a. Elektroforesis
                        Elektroforesis merupakan peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke
                   salah satu elektroda dalam suatu sistem sejenis elektrolis,,elektrolisis dapat digunakan
                   untuk mendeteksi muatan suatu sistem koloid
                 b. Adsorbsi
                        Partikel koloid mempunyai kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada
                   permukaannya . Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi
                        Partikel koloid dapat mengadsorbsi ion ,muatan listrik dan zat yang berupa molekul
                   netral .
                 c. Koagulasi
                        Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan koloid
                   dapat distabilkan muatannya,jadi koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan
                   dianoda , sedangkan koloid yang bermuatan positif digumpalkan di katoda
                        Koagulasi atau pengendapan yang disebabkan oleh gaya gravitasi akan terjadi jika
                   sistem tidak bermuatan
                   Ada beberapa hal yang dapat yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral ,yaitu:
                        1. menggunakan prinsip elektroforesis
                            pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke elektrode dengan muatan yang
                        berlawanan.
                        2. penambahan koloid lain dengan muatan yang berlawanan
                        3. penambahan elektrolit
                        4. pendidihan
                            kenaikan suhu menyeabakan tumbukan antar partikel sol dengan air bertambah
                        banyak. Akibatnya elektrolit terlepas dan partikel tidak bermuatan
                 d. Pengolahan air bersih
                        Pengolahan air bersih didasarkan pada sifat sifat koloid yaitu kogulasi dan adsorbsi
            3. Koloid pelindung
                 suatu koloid dapat distabilkan dengan menambahkan koloid lain yang disebut koloid                   pelindung. Koloid pelindung ini akan membungkus partikel zat terdispersi sehingga tidak
            ada lagi yang mengelompok
            4. Dialisis
                 Dialisis merupakan proses pemurnian dalam suatu sistemkoloid dari partikel partikel
            bermuatan yang menempel pada permukaan ,dialisis dapat menghilangkan ion ion
            pengganggu . Pada proses digunakan selaput semipermeabel.

C.  Koloid Liofil Dan Koloid Liofob

1.  Koloid liofil (suka cairan).  Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dengan medium pendispersi . Contoh : sabun ,kanji dan deterjen
2.  Koloid liofob (tidak suka cairan). Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik antara fase terdispersi dengan medium pendispersi yang cukup lemah atau bahkan tidak ada sama sekali . Contoh : dispersi emas ,belerang dalam air.

D. Pembuatan Sistem Koloid

            1. Kondensasi
                Merupakan cara kimia . Terjadinya kondensasi partikel molekul atau ion berabung
            membentuk partikel koloid.
            Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi :
                a. Reaksi redoks
                        2H2S(g) + SO2 (aq)                      3S(s)(koloid) + 2H2O(l)
                b. Reaksi hidrolisis
                        FeCl3(aq) +3 H2O(l)                        Fe(OH)3(s)(koloid) + 3HCl(aq)
                c. Reaksi substitusi
                        2H3AsO3(aq) + 3H2S(g)              As2S3(s) (koloid) + 6H2O(l)
            2. Dispersi
                Dengan cara dispersi , partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid dan dapat dilakukan             dengan cara mekanik maupun kimia
            Yang termasuk cara dispersi :
            a. Cara mekanik
                Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang besar kemudian dihaluskan dengan cara
            penggilingan sampai memperoleh tingkat kehalusan tertentu , kemudian diaduk dengan                     medium pendispersi
            b. Cara busur bredig
                Digunakan untuk membuat sol sol logam dengan loncatan bunga listrik .cara busur ini
            merupakan gabungan cara disperse dan cara kondensasi.
            c. Cara Peptisasi
                Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir butir kasar atau dari suatu endapan
            dengan bantuan pemeptisasi (pemecah)
            3. Koloid asosiasi
               berbagai jenis zat , seperti sabun dan deterjen ,larut dalam air tetapi tidak membentuk larutan , melainkan koloid . Molekul sabun atau deterjen terdiri atas bagian yang polar dan yang non polar . Sebagai bahan pencuci ,sabun dan deterjen bukan saja berfungsi sebagai pengelmusi tetapi juga sebagai pembasah atau penurun tegangan permukaan. Air yang mengandung sabun mempunyai tegangan permukaan yang lebih rendah sehingga lebih mudah meresap pada bahan cucian.

Sebuah Hadist Nabi


Untuk Kita Renungkan

Rasulullah bersabda,”Sungguh menakjubkan perilaku orang mukmin. Semua keadaan adalah baik baginya. Jika memperoleh kesenangan dia bersyukur, dan yang demikian itu adalah baik baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, dan yang demikian itu adalah baik baginya. Perilaku seperti itu hanya ada pada pada diri seorang mukmin. < HR muslim dan Ahmad >

Sabtu, 06 April 2013

Kewirausahaan

Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber dayasumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses.

Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatankesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.

Intinya, seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki jiwa Wirausaha dan mengaplikasikan hakekat Kewirausahaan dalam hidupnya.

Orang-orang yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam hidupnya. Secara epistimologis, sebenarnya kewirausahaan hakikatnya adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat dan kiat dalam menghadapi tantangan hidup. Seorang wirausahawan tidak hanya dapat berencana, berkata-kata tetapi juga berbuat, merealisasikan rencana-rencana dalam pikirannya ke dalam suatu tindakan yang berorientasi pada sukses. Maka dibutuhkan kreatifitas, yaitu pola pikir tentang sesuatu yang baru, serta inovasi, yaitu tindakan dalam melakukan sesuatu yang baru.

Beberapa konsep kewirausahaan seolah identik dengan kemampuan para wirausahawan dalam dunia usaha (business). Padahal, dalam kenyataannya, kewirausahaan tidak selalu identik dengan watak/ciri wirausahawan semata, karena sifat-sifat wirausahawan pun dimiliki oleh seorang yang bukan wirausahawan. Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan, baik karyawan swasta maupun pemerintahan (Soeparman Soemahamidjaja, 1980).

Wirausahawan adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup (Prawirokusumo, 1997) Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha (Suryana, 2001).

Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing.

Menurut Zimmerer (1996:51), nilai tambah tersebut dapat diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut:
  • Pengembangan teknologi baru (developing new technology)
  • Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge)
  • Perbaikan produk (barang dan jasa) yang sudah ada (improving existing products or services)
  • Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services with fewer resources)

Walaupun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil, namun sifat inipun sebenarnya dimiliki oleh orang-orang yang berprofesi di luar wirausahawan. Jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan dan tantangan, apapun profesinya.

Dengan demikian, ada enam hakekat pentingnya Kewirausahaan, yaitu:

  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994)
  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997)
  • Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.
  • Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959)
  • Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zimmerer, 1996)
  • Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Jumat, 05 April 2013

Aspek-Aspek Negara

Aspek Kehidupan Sosial Bernegara
A. Politik Pendidikan
Pendidikan adalah sala satu bentuk interaksi manusia. Pendidikan adalah suatu tindakan sosial yang pelaksanaanya dimungkinkan melalui suatu jaringan hubungan- hubungan kemanusiaan. Jaringan-jaringan inilah bersama dengan hubungan-hubungan dan peranan peranan individu di dalamnyalah yang menentukan watak pendidikan di suatu masyarakat.
Jika politik dipahami sebagai “ praktik kekuatan, kekuasaan dan otoritas dalam masyarakat dan pembuatan keputusan- keputusan otoritatif tentang alokasi sumberdaya dan nilai- nilai sosila”. Maka jelaslah bahwa pendidikan tidak lain adalah sebuah bisnis politik
Politik adalah bagian dari paket kehidupan lembaga- lembaga pendidikan. Bahkan menurut Baldridge, lembaga- lembaga pendidikan dipandang sebagai sitem politik mikro, yang melaksanakan semua fungsi utama sistem- sistem politik.
Hal ini menegaskan bahwa pendidikan dan politik adalah dua hal yang saling berhubungan erat dan saling mempengaruhi. Berbagai aspek pendidikan selalu mengandung unsur- unsur politik, begitu juga sebaliknya setiap aktivitas politik ada kaitanya dengan aspek- aspek kependidikan.
B. Aspek-Aspek Dalam Pendidikan
Pendidikan tidak akan terlaksana secara baik bila tidak memandang pada bermacam- macam aspek. Yang dimaksudkan dengan aspek disini adalah sudut pandang, maka sudut pandang tersebut sangat menentukan dalam mempertimbangkan sesuatu. Dalam Pendidikan, memang ada beraneka ragam aspek, di antara aspek yang dominan adalah politik dan sosial.
  1. Aspek politik dalam pendidikan
Sebagaimana di maklumi bahwa yang hendak dituju oleh pendidikan nasional ialah pendidikan yang yang menuju kepada masyarakat industri yang tidak terlepas dari tujuan politik ideologi bangsa kita sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1945, Pancasila dan GBHN. Sistem Pendidikan Nasional telah merumuskan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan, yaitu : Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945; Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemajuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional; Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekertu luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Apabila dilihat rumusan tersebut di atas, kelihatannya sudah jelas dan sistematik serta merupakan kerangka acuan bagi politik pendidikan nasional dalam semua aspek pendidikan. Sebenarnya rumusan ini merupakan penjabaran dari politik ideologi nasional ke dalam sektor pendidikan. Pada dasarnya pembangunan dalam sektor pendidikan adalah aspek dari pembangunan politik bangsa, yang tidak lain sebagai konsistensi antara arah politik dengan cetak biru pembangunan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 (HAR. Tilaar, 2003:161).
Tujuan nasional sebagai ideologi dasar dari masyarakat dan bangsa kita menjiwai terbentuknya masyarakat industri modern, ideologi pembangunan dan politik pendidikan nasional. Ilmu pengetahuan, teknologi serta informasi sangat menentukannya, karenanya sangat perlu diketahui oleh masyarakat serta berkembangnya kehidupan demokrasi. Maka demokrasi modern memerlukan rakyat yang selain berpaham nasionalis itu juga berwatak demokrat. Baik paham nasionalisme maupun watak demokrat tidaklah tumbuh sendiri, melainkan harus dididikan melalui proses sosialisasi pendidikan politik.
Dengan demikian, masyarakat industri modern adalah masyarakat yang mengacu pada kualitas dalam segala aspek kehidupan, kualitas tersebut akan hidup dalam masyarakat yang tinggi disiplinnya. Justru itu masyarakat industri modern yang diinginkan tidak dapat dilepaskan dari dasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 serta GBHN, dengan intinya adalah pemerataan, kualitas kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia dan pembangunan yang berbudaya nasional.
Salah satu unsur politik pendidikan yang menunjang kehidupan masyarakat industri modern ialah pendidikan yang memperioritaskan kepada kualitas. Pemberian prioritas kepada kualaitas bukan berarsi suatu sistem pendidikan yang elitis tetapi yang memberi kesempatan kepada setiap orang mengembangkan bakat sesuai kemampuannya dengan. Pendidikan yang selektif untuk rogram yang relevan, pendidikan untuk anak pintar, merupakan program yang perlu dilaksanakan.
Politik pendidikan dengan sadar menyiapkan tenaga yang cukup jumlahnya dan terampil untuk mendukung masyarakat industri perlu dengan sungguh-sungguh disiapkan. Persoalannya ialah masyarakat industri modern yang akan kita bina adalah masyarakat yang adil dan makmur.
Oleh karena itu pendidikan merupakan landasan utama bagi tumbuhnya rasa nasionalisme yang positif. Usaha ini tentu saja harus mendapat perhatian utama dalam pendidikan dasar 9 tahun ( wajar 9 tahun ). Pelaksanaan politik pendidikan ini menuntut cara penyajian yang efektif sesuai dengan taraf pendidikan rakyat dan tumbuhnya kehidupan yang terbuka. Untuk itu metodologi yang rasional dan kritis sangat diperlukan sehingga mampu mengolah berbagai bentuk arus globalisasi.
Dalam hal ini, akhirnya politik pendidikan nasional perlu ditata dalam suatu organisasi yang efesien dan dikelola oleh yang profesional. Yang tidak dapat dielakkan ialah keterpaduan antara berbagai jenis dan jenjang pendidikan nasional sebagai sistem pengelolaan pembangunan nasional.
  1. Aspek sosial dalam pendidikan
Sebagaimana yang telah di ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial (Soscial Being atau homo saphiens ). Kita sebagai manusia dilahirkan ke alam dunia ini dalam kondisi yang lemah, tak berdaya. Karena manusia tidak berdaya, maka dia tidak akan sanggup melangsungkan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Fithrah-potensi manusia yang dibawa semenjak lahir baru dapat dan bisa berkembang dalam pergaulan hidupnya, dan manusia yang dilahirkan itu tidak akan menjadi manusia tanpa pengembangan potensi tersebut sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran Islam. Di antara nash yang menyatakan demikian, dapat dipahami dari surat Al-Hujurat ayat 13, yaitu:
يأيها الناس إنّا خلقناكم من ذكر او انثى و جعلناكم شعوبا و قبائل لتعارفوا
Dari nash tersebut diatas dapat disinyalir betapa pentingnya memperdayakan masyarakat. Untuk memperdayakan masyarakat, yang pertama adalah mengembang kan potensinya. Potensi tersebut dapat dikembangkan adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia akan berwawasan, mempunyai bermacam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjadikan seseorang atau masyarakat dapat diperdayakan untuk bermacam-macam kepentingan, baik yang berhubungan dengan pribadinya maupun yang berkaitan dengan masyarakat. Kedua, dengan jalan sosialitas manusia ( social being ), dalam ajaran Islam inilah yang dikenal dengan ta’arafu-berkenalan, menjalin hubungan secara baik. Keadaan seperti itulah yang dikehendaki oleh ajaran Islam sekaligus memperdayakan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan, khususnya dalam mengelola pendidikan.
Apabila seseorang telah dapat bergaul dan menyesuaikan dirinya dengan kehidupan kelompoknya, berarti orang tersebut dapat mengenal nilai yang berlaku dalam kehidupan sosialnya, sekaligus memperkembangkan pribadinya. Dengan interaksi sosial itu manusia dapat merealisasikan kehidupannya, sebab tanpa timbal balik dalam interaksi sosial itu, ia tidak akan dapat merealisasikan kemungkinan dan potensi-potensinya sebagai individu ( Gerungan, 1966 : 26 ). Mengenai sosialitas manusia ( social being ) terlaksananya pendidikan secara baik adalah dengan saling tolong-menolong sebagai makh luk sosial. Pernyataan ini dapat dipertegas dengan firmanAllah:
وتعاونوا علي البرّ و التّقوي (المائدة : 2)
Aspek- aspek sosial pendidikan dapat digambarkan dengan memandang ketergantungan individu- individu satu sama lain dalam proses belajar. Makhluk-makhluk bukan manusia seperti binatang buas, burung-burung, atau serangga dapat hidup hanya berpedoman pada warisan biologis, suatu program genetik bagi tingkahlaku makhluk hidup. Pola-pola diwarisi mengajarnya memelihara anaknya, mencari makan, dan menjaga kawasannya.
Sebaliknya, kebanyakan yang perlu diketahui oleh manusia tidak diprogramkan melalui genetik. Semenjak dan masa sangat muda lagi kanak-kanak sudah harus mulai mempelajari cara hidup yang begitu banyak macamnya.Cara hidup yang disebut kebudayaan itu tidak dapat diwariskan secara biologis, harus selalu dipelajari oleh setiap individu.
Sekolah, yang merupakan institusi formal untuk belajar, mengharuskan sejumlah persyaratan kepada pendidikan. Akibatnya, belajar di sekolah sangat berlainan dengan yang berlaku di dalam keluarga, dalam teman-teman sebaya, atau dalam komunitas. Jadi pendidikan dalam pengertiannya yang sangat luas dapat dianggap sebagai suatu proses sosialisasi yang melaluinya seseorang mempelajari cara hidupnya.

Dimensi- dimensi sosial pendidikan yang dibicarakan dalam aspek- aspek sosial pendidikan adalah:
a. aspek sosial yang ditanamkan oleh pendidikan yang berlaku disekolah, seperti pewarisan budaya dari generasi tua ke generasi muda. Ini berlaku pada semua masyarakat, dahulu atau pun sekarang, termasuk dalam masyarakat Indonesia sendiri. Juga pewarisan ketrampilan. ketrampilan dan generasi ke generasi. ini juga berlaku di masyarakat manapun, walaupun teknologi ketrampilan itu selalu berubah. Juga pewarisan nilai-nilai dan kepercayaan merupakan fungsi pendidikan. Nilai-niiai scperti kejujuran, solidaritas, gotong-royong adalah nilai-nilai yang tak dapat tidak harus wujud kalau masyarakat itu akan hidup terus. Sebab kumpulan apapun tak akan hidup sebagai kumpulan tanpa nilai-nilai itu sebagai pemersatu.
b. aspek sosial yang kedua yang mempengaruhi pendidikan adalah ciri-ciri budaya yang dominan pada kawasan-kawasan tertentu di mana sekolah-sekolah itu wujud. Walaupun pengelompokan seperti ini tidak selalu memberi gambaran yang jernih terhadap kelompok yang dibicarakan di situ. Sebab faktor-faktor lain turut memainkan peranan di dalamnya, seperti kepercayaan politik dan sosial, status sosio ekonoimi, kelas sosial, etnik, ras, agama dan lain-lain.
c. aspek sosila ketiga yang memainkan peranan pada pendidikan yaitu faktor-faktor organisasi, dan segi birokrasi. Adanya sistem adrninistrasi yang bersifat hirarkis dan biasanya berlaku pada tiap organisasi persekolahan. Juga hubungan-hubungan dan segi formal dan informal yang masing-masing tergantung pada sistem-sistem sosial yang mengadakannya. Begitu juga guru dan adininistrasi, hubungan orang tua, guru, hubungan teman-teman sebaya, dan hubungan guru, murid, semuanya besar pengaruhnya dalam pelaksanaan pendidikan.
d. aspek sosial keempat yang terpenting mempengaruhi pendidikan adalah sistem pendidakan itu sendiri. Istilah sistem pendidikan bermaksud suatu pola total masyarakat dalam institusi formal, agen-agen dan organisasi yang meimindahkan pengetahuan dan warisan kebudayaan yang mempengaruhi pertumbuhan sosial, spiritual, dan intelektual seseorang. Walaupun mungkan kita menganalisa sistem pendidikan dalam kawasan kota, kota madya, propinsi dan lain-lain, tetapi biasanva dibuat dalam bentuk lebih besar, seperti sebuah negara.

Tidak ada suatu sistem pendidikan yang tetap dan statis. Perlu juga disadari bahwa sistem pendidikan selalu dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, spiritual, ekonomi, dan politik.